Indonesia memang kaya dengan beragam jenis unggas hias, khususnya ayam, mulai dari ayam kokok balenggek dari Minang, ayam cemani dari Kedu, ayam ketawa dari Sulawesi Selatan, ayam nunukan dari Kalimantan Timur, hingga ayam pelung dari Cianjur.
Artikel kali ini membahas mengenai ayam pelung, terutama dari aspek seleksi (pemilihan) bibit, perawatan, hingga aspek lomba / kontes.
Memilih ayam pelung yang baik
Ayam pelung jantan
Ayam pelung jantan
Ayam pelung banyak dijual di pasar unggas, biasanya menyatu dengan penjualan unggas jenis lain termasuk burung kicauan.
Selain di pasar unggas, Anda pun bisa membeli bibit, ayam remaja, dan ayam dewasa dari para peternak. Apalagi banyak peternak ayam pelung yang buka lapak di forum jual-beli online.
Memilih ayam pelung berkualitas membutuhkan kejelian, juga  pengalaman tersendiri. Para peternak biasanya memisahkan ayam pelung yang memenuhi kriteria unggulan, sehingga saat kita hendak membeli, mereka biasanya akan menunjukkan produk siap lomba, atau ayam muda yang memiliki prospek bagus untuk lomba.
Berikut ini beberapa ciri dari ayam pelung jantan yang dapat dijadikan panduan bagi Anda :
  • Ayam pelung sudah berusia 1 tahun atau lebih.
  • Bentuk kepala bundar atau lonjong besar, dengan mata beralis, mata bersinar, dan wajahnya tampak beringas. Ini menandakan ayam memiliki sifat pemberani atau bermental tinggi.
  • Bobot badan minimal 5 kg. Makin berat bobotnya, biasanya makin baik penampilan ayam tersebut. Ayam pelung merupakan salah satu jenis ayam bukan ras (buras) yang bertubuh paling bongsor. Sebab ayam buras jantan umumnya hanya berbobot 2,5 kg.
  • Suara atau kokoknya panjang dan bersih.
  • Aktif bergerak (energik) dan berjalan dengan tegap (gagah).
  • Sering mengais-ngais tanah, baik untuk mencari sisa pakan atau memenuhi kebutuhan mineralnya.
  • Memiliki jengger berbentuk tunggal, dengan ukuran besar, tebal, dan selalu tegak. Bagian pinggir jengger bergerigi dengan warna merah menyala.
  • Paruhnya kuat, tebal, dan runcing.
  • Warna kaki sama dengan warna kukunya.
  • Memiliki sepasang pial (gelambir di bagian dagu) yang berukuran besar, membulat, dan berwarna merah menyala.
  • Lehernya besar, panjang, ditumbuhi bulu-bulu lebat bewarna merah-hitam mengkilat.
  • Temboloknya besar dan menonjol, sedangkan dadanya bidang, lebar, dan kuat.
  • Kedua sayapnya kokoh, dengan bulu sayap tersusun rapi dan tampak mengkilap.
  • Bulu ekornya menjurai panjang.
  • Kedua kakinya panjang dan kuat, berbentuk seperti persegi, dengan sisik-sisik yang rapat dan bersih, serta memiliki taji / jalu yang besar. Cakarnya juga besar.
  • Warna kaki yang baik adalah hitam kebiruan, hitam kehijauan, atau putih keabuan. Warna kuning pada kaki menandakan ayam pelung jantan tersebut sudah bukan lagi galur murni, tetapi tercampur dengan genetik ayam kampung biasa. Hanya saja, fakta di lapangan menunjukkan, banyak ayam pelung berkaki kuning yang memiliki suara kokok dan penampilan bagus.
  • Paha berdaging tebal, yang menunjukkan kekuatan otot di bagian tersebut.
  • Postur tubuh secara keseluruhan besar dan panjang, dengan bagian depan badan lebih besar, kemudian ke belakang mengecil.
Perawatan ayam pelung
Ayam pelung kini semakin banyak dipelihara di berbagai daerah di Indonesia
Ayam pelung kini banyak dipelihara di berbagai daerah di Indonesia.
—-
Banyak faktor yang bisa membuat ayam pelung rajin berkokok, dan durasinya lama. Selain dipengaruhi faktor genetik, performa kokok ayam pelung juga ditentukan pula oleh faktor perawatan harian, seperti konsistensi dalam memandikan dan menjemur ayam, pemberian pakan berprotein tinggi (menjaga otot tetap bagus), jamu khusus untuk ayam pelung, serta pelatihan. Jangan lupakan pula aspek kebersihan kandang, sebab dari sinilah kenyamanan ayam menjadi pemicu awal performa suaranya.
1. Jaga kebersihan kandang dan lingkungan sekitarnya
Secara rutin, bersihkan kandang ayam untuk mencegah serangan penyakit yang bersumber dari bakteri, virus, jamur, dan parasit. Bersihkan kandang secara berkala, mulai dari lantai dasar hingga sela-sela kandang. 
Lokasi kandang diusahakan terkena curahan sinar matahari pagi, yang merupakan sumber provitamin D dan sangat berguna untuk pertumbuhan tulang pada ayam. Jadi, diusahakan kandang menghadap ke arah timur adalah sinar matahari pagi bisa menembus bagian dalam kandang. Hal ini juga membantu kandang agar selalu dalam keadaan kering, tidak lembab. Sebab kandang yang lembab mudah ditumbuhi jamur dan cepat berbau.
2. Berikan pakan yang tepat.
Pakan harian ayam pelung adalah campuran beras merah, kacang hijau, dan gabah. Selain itu, buah-buahan bisa diberikan sebagai pakan tambahan (extra fooding).
Berikut ini beberapa jenis buah dan manfaatnya untuk ayam pelung:
  • Pisang : bermanfaat untuk melembutkan suara dan menyamankan tenggorokan.
  • Pepaya : menjaga kesehatan pencernaan dari ayam pelung.
  • Jeruk: dapat mencegah dan mengobati suara serak / ngorok.
  • Tomat : bermanfaat mendinginkan tenggorokan dan mengurangi lendir berlebihan.
Sebaiknya buah bisa diberikan secara berselang-seling, sehingga kemanfaatannya bisa dirasakan langsung oleh ayam pelung Anda.
Extra fooding hewani juga bisa diberikan, agar jenis protein makin beragam. Anda bisa memberinya belut, ikan kecil, keong,  siput, dan sebagainya.
3. Pemberian multivitamin
Perawatan ayam pelung jelas berbeda dari perawatan ayam kampung biasa, karena tujuan pemeliharaannnya pun berbeda. Sebagian besar ayam pelung dipelihara untuk dinikmati kokoknya. Oleh karena itu, kebutuhan nutrisinya berbeda dari ayam kampung yang biasanya diambil telur atau dagingnya.
Pemberian vitamin sangat penting bagi ayam pelung, agar kondisinya selalu fit, rajin berkokok, dan memiliki power luar biasa. Anda bisa menggunakan multivitamin generik yang biasa dikonsumsi manusia, atau bisa juga multivitamin khusus ayam.
Selain membuat kondisinya fit, ayam juga memiliki sistem pertahanan tubuh yang lebih baik, sehingga relatif bisa mencegah infeksi penyakit tertentu, khususnya yang biasa menyerang ayam seperti tetelo atau ND.
Selain dari perawatan dalam ukuran standar terdapat juga perawatan lain yang berkaitan dengan perawatan tubuh dan kondisi maupun prakondisi, yaitu pemberian jamu jamuan dengan bahan dasar herbal. Berikut salah satu tips meracik jamu untuk ayam pelung agar memiliki nafsu makan tinggi.
4. Berikan ramuan tradisional / jamu
Ayam pelung yang biasa dilombakan umumnya rutin diberi jamu atau ramuan tradisional, untuk menambah nafsu makan, penambah stamina, meningkatkan sistem pertahanan tubuh, dan bisa memperhalus suara atau mencegah gangguan suara.
Berikut ini ramuan tradisional untuk ayam pelung hasil racikan BAP Team :
Bahan yang dibutuhkan :
  • Kunyit, 5 sendok makan (sdm)
  • Kunyit putih, 2 sdm
  • Temu ireng, 2 sdm
  • Temulawak, 2 sdm
  • Kencur, 2 sdm
  • Tepung beras merah, 3 sdm
  • Tepung kacang hijau, 3 sdm
  • Madu, 3 sdm
  • Telur bebek, 2 butir
Proses pembuatan :
  • Semua bahan, kecuali madu dan telur bebek, ditumbuk sampai menjadi bubuk.
  • Campurkan bubuk tersebut dengan madu dan telur, sehingga membentuk adonan atau pasta.
  • Adonan dibentuk seukuran biji jagung, lalu  dijemur hingga kering.
  • Setelah kering, butiran jamu bisa disimpan di tempat tertutup rapat dan bebas jamur.
Dosis pemakaiannya sebagai berikut :
  • Ayam pelung jantan dewasa : 2 butir, diberikan sore hari, dengan frekuensi tiga kali seminggu (misalnya Senin, Rabu, dan Jumat).
  • Ayam pelung betina dan anakan/muda : 1 butir, diberikan setiap sore, frekuensi dua kali seminggu.
Ada juga bahan herbal lain yang juga biasa Anda racik untuk diberikan kepada ayam pelung, misalnya :
  • Bawang putih tunggal (garnier): diberikan 2 minggu sekali, dengan dosis 1 butir untuk ayam jantan dewasa dan 1/2 butir untuk ayam betina / ayam muda.
  • Jahe: diberikan jika kondisi cuaca dingin. Pemberian jangan berlebihan, karena jahe memiliki sifat panas di dalam tubuh, dan bisa menimbulkan gangguan suara atau gangguan pada tenggorokan.
Penilaian ayam pelung dalam lomba
Penilaian terhadap ayam pelung dalam lomba / kontes meliputi beberapa kriteria, mulai dari kepala hingga ekor, yang ditandai dengan bendera warna putih.
Penilaian lain diutamakan pada kriteria suara ayam, mulai dari keserasian, suara angkatan, suara tengah, dan suara ujung. yang nantinya akan ditandai dengan bendera warna merah, kuning, dan biru.
Sedangkan penjelasan mengenai kriteria suara yang menjadi dasar penilaian dalam kontes ayam pelung hingga kini masih mengundang perdebatan di kalangan penggemarnya. Namun, sebagai panduan, berikut ini kriteria paling dasar menurut beberapa sumber:
  • Suara dasar yang merupakan ciri khas ayam pelung dan yang membedakannya dari jenis ayam lainnya. Beberapa penggemar mengatakan, kriteria suara yang bagus adalah bersuara bulat, kristal, empuk, dan terdengar seperti menggema (echo). Rata-rata ayam pelung yang baik memiliki awalan suara seperti huruf U.
  • Suara angkatan atau suara awal dari kokok ayam pelung yang bagus harus bersih, dengan tempo lambat, dengan ketukan renggang. Berikut contohnya :
    • u – u – u = disebut kukudur
    • u – el = disebut kukelur
    • u – eu = disebut  kuker
  • Suara tengah, atau suara yang dikeluarkan setelah suara angkatan, harus memiliki nada yang meninggi. Contohnya “u u u elllllll UUUUUUUUUUUUUU … “. Di sini suara tengah ditandai dengan huruf U besar. Suara tengah, atau disebut juga BITU, akan menjadi lebih baik lagi jika terdengar lebih besar dari suara dasarnya.
  • Sikap ayam dalam berkokok, terutama saat mengeluarkan suara tengah, juga dapat terlihat dari gayanya saat melantunkan lagu, yaitu :
    • dengan paruh rapat (mingkem) : ayam dengan sikap seperti ini biasanya menghasilkan suara yang lebih lembut.
    • Dengan paruh terbuka (mangap) : ayam dengan sikap seperti ini menghasilkan suara yang lebih lepas, seperti orang berteriak.
    • dengan paruh bergetar : ayam dengan sikap seperti ini menghasilkan suara yang cenderung kotor, serak, atau tidak bersih, dan terdenger bergetar.
  • Suara akhir / suara ujung merupakan suara ujung dari kokok ayam pelung. Suara ini ditandai dengan penurunan nada dan pelepasan nafasnya. Kriteria yang bagus adalah suaranya menurun, seperti menahan suara, kemudian dilepas lagi. Selain itu, suara ujung juga harus bersih dan besar.
  • Irama adalah lagu / kokok ayam pelung yang terbentuk pada suara tengah. Dibutuhkan penguasaan lagu oleh ayam tersebut agar ia tidak kehabisan nafas di tengah-tengah. Suara ini bisa panjang, bisa pendek, dan bermacam suara yang tidak bisa dijabarkan secara panjang lebar di sini. Intinya, irama yang bagus adalah irama yang dikenal dengan istilah IRAMA SOPAN.
  • Keserasian atau kehamonisan suara adalah rangkaian lagu yang dimulai dari awal hingga akhir. Di sinilah ayam akan menunjukan kemampuan dan kualitas suaranya, dimulai dari suara yang bersih, empuk, volume, dan hal-hal lain yang menunjukkan kualitas suaranya.
Para penggemar ayam pelung tentu ingin menguji kemampuan burungnya dalam kontes / lomba. Sayangnya. frekuensi lomba masih minim, dan umumnya hanya digelar di Pulau Jawa, khususnya di wilayah barat. Hal ini perlu mendapat perhatian lebih serius dari pihak terkait, khususnya komunitas / paguyuban ayam pelung.
Metode gurah dan pelatihan ayam pelung
Untuk perawatan sebelum lomba, ayam pelung biasanya memasuki masa prakondisi agar kondisi kesehatan dan mentalnya prima saat berlomba. Prakondisi lomba ini biasanya dilakukan dengan cara melakukan gurah, sekitar 3 minggu sebelum lomba.
Metode gurah dilakukan dengan cara memberikan minuman pada pagi hari. Nah, air minum yang diberikan ini merupakan air rebusan daun dadap, yang dicampur air matang. Setelah diberi minum, berikan pula telur (bisa  telur ayam kampung, bisa juga telur itik).
Selain penggurahan, ayam pelung juga harus terus dilatih agar rajin berkokok. Dengan demikian, suaranya pun akan terdengar lebih nyaring, halus, dan panjang.

sumber:ternakayampelung.com