Total Tayangan Laman

Sabtu, 04 Agustus 2012

panduan praktis menetaskan telur ayam dengan mesin penetas



 
9. Peralatan yang dibutuhkan untuk menetaskan telur
1. Baki plastik/seng sebagai wadah air dalam menciptakan kelembaban
2. Kain, Fungsi kain dalam hal ini adalah untuk menciptakan suasana ruangan dalam mesin agar senantiasa lembab
3. Lampu minyak sebagai cadangan sumber pemanas jika listrik padam
10.      Perlakuan pada telur
      1.  Bersihkan telur dengan air hangat,alcohol 70%,formalin 40%
      2.  Telur yang akan ditetaskan disimpan dengan kisaran suhu 10-18C dan kelembaban 60-75%. Disimpan diruangan yang rapat ( penyimpanan telur yang benar rongga udara di atas dan jangan lebih dari 5 hari)

11. Fumigasi Mesin Tetas
       Tujuannya untuk memusnahkan bibit penyakit. Caranya adalah dengan menggunakan KMNO4 dan formalin. Masukkan wadah pada mesin tetas. Tuang KMNO4 pada wadah setelah itu campur dengan formalin. Setelah itu tutup mesin tetas dan lubang ventilasi. Fumigasi berlangsung selama 30 menit atau 1 jam. Telur jangan dimasukkan dulu. Takaran untuk formalin 2 kali lipat dari KMNO4

12. Pelaksanaan Penetasan
Baki plastik/seng diisi dengan air bersih. Kemudian kain yang bersih dan bebas kuman dimasukkan ke dalam baki tersebut hingga tercelup seluruh bagiannya . Fungsi kain dalam hal ini adalah untuk menciptakan suasana ruangan dalam mesin agar senantiasa lembab. Rak tetas dikeluarkan untuk sementara, telur-telur disusun secara teratur dan diletakkan dalam keadaan tidur. Perhatikan posisi ujung telur yang runcing dan tumpul. Ingat, ujung tumpul diletakkan di bagian atas dan ujung runcing di bawah membentuk sudut 40°. Masukkan rak tetas tersebut ke dalam mesin kemudian suhu didalam ruangan distabilkan 103°F (38,8° C). Bila penetasan sudah dimulai, pintu dan lubang ventilasi ditutup rapat
Selengkapnya teknis pelaksanaan penetasan dan hari ke hari dijelaskan seperti berikut ini
Hari ke 1:
Setelah sumber pemanas dihidupkan pintu dan lubang ventilasi dari mesin penetas telur ditutup rapat, jangan sekali kali mencoba membukanya Aturan aturan ini berlaku dalam jangka waktu 48 jam atau selama 2 hari berturut turut untuk menekan seminimal mungkin perubahan temperatur udara dan suhu diatur pada 102°F (38,8°C) sampai hari ke 21 .
Hari ke 2:
Mesin tetas tetap dalam kondisi tertutup rapat,
Hari ke 3:
Mulai dilakukan pemutaran telur dengan handle. Dalam proses ini rak telur tidak perlu dikeluarkan dari mesin penetas. Pemutaran telur dilakukan supaya seluruh bagian telur mendapatkan panas secara merata. Hal ini sangat berguna untuk meningkatkan daya tetas. Kegiatan pemutaran dikerjakan tiga kali dalam sehari, masing masing pada pukul 07.00,12.00, dan 19.00. Pemutaran telur dilakukan secara rutin setiap hari mulai hari ketiga sampai hari ke 18 dengan frekuensi yang sama.
Hari ke 4:
Kegiatan yang dilakukan meliputi pemutaran dan pembukaan lubang ventilasi selebar ¼ bagian.  Baki perlu diperiksa apakah air yang ada didalamnya masih cukup atau tidak. Apabila ada bagian dan kain dalam baki tersebut sudah tidak tercelup air lagi berarti kelembaban berkurang dan harus ditambah air
Hari ke5:
Kegiatan sama seperti hari ke 4 hanya saja lubang ventilasi dibuka selebar ½ bagian
Hari ke6:
lubang ventilasi dibuka selebar ¾ bagian. Mengenai kegiatan semuanya masih sama seperti hari ke 5
Hari ke7:
Pemutaran telur dilakukan tiga kali sehari. Pada malam hari mulai melakukan peneropongan telur (candling) untuk mengetahui keadaan didalam telur. Mengapa pada malam hari? Sebab pada waktu itulah peneropongan dapat dilakukan secara maksimal mengingat kondisinya yang berlawanan dengan sinar atau pencahayaan alat teropong. Bisa saja hal ini dilakukan pada waktu siang hanya saja akurasi pengamatan lebih rendah daripada malam hari. Melalui peneropongan tersebut akan diketahui telur yang fertil telur kosong (infertil) dan kematian embrio di dalam telur.
TELUR KOSONG ciri cirinya sebagai berikut:
Telur kelihatan jernih tanpa serabut urat
Rongga udara tidak menunjukkan perubahan dan secara keseluruhan tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam telur

TELUR MATI ciri cirinya sebagai berikut
Terlihat adanya bintik atau gumpalan hitam dan tidak ada
Selain bintik atau gumpalan hitam, telur yang mati embrionya kadang-kadang ditandai dengan adanya bentuk seperti pelangi yang berwarna merah

TELUR HIDUP ciri cirinya sebagai berikut:
Di dalam telur yang hidup terdapat serabut urat, rongga udara kelihatan meluas dan tanda-tanda kehidupan di dalam telur tersebut

Telur yang fertil dimasukkan kembali ke rak tetas sedangkan telur yang embrionya mati harus segera disingkirkan. Telur kosong masih dapat dimanfaatkan sebagai telur konsumsi.
Hari ke 8:
Kegiatan masih berkisar pada pemutaran seperti yang dilakukan pada hari hari sebelumnya. Demikian pula mengenai lubang ventilasi dibuka seluruhnya.
Hari ke9:
Seluruh kegiatan sama dengan hari ke8
Hari ke10:
Seluruh kegiatan sama dengan hari ke9
Hari ke11:
Seluruh kegiatan sama dengan hari ke10
Hari ke12:
Seluruh kegiatan sama dengan hari ke11
Hari ke 13:
Seluruh kegiatan sama dengan hari ke12
Hari ke14:
Pada hari ke14 kembali dilakukan peneropongan telur untuk mengetahui keadaan embrio didalamnya. Embrio yang mati didalam telur langsung dikeluarkan sehingga rak tetas hanya diisi dengan bibit yang masih hidup saja.
Hari ke15:
telur telur tetas tetap diputar 3 kali sehari.
TELUR HIDUP ciri cirinya
Bintik kehidupan semakin meluas
Serabut urat semakin banyak
Tampak adanya pergerakan dari embrio di dalam telur

TELUR MATI ciri cirinya
Bintik atau gumpalan hitam terlohat jelas, namun ada juga telur mati karena kuning telur yang pecah
Berlainan dengan telur hidup, maka telur yang mati tidak ada pergerakan dari embrio
Hari ke16:
Sama dengan kegiatan pada hari ke15
Hari ke17:
Semua kegiatan masih sama dengan yang dilakukan pada hari ke 16. Pada hari ke 17 peternak perlu mengadakan peneropongan untuk yang terakhir kali. Seperti ketentuan dalam peneropongan sebelumnya embrio yang mati harus segera disingkirkan
Hari ke18:
Kegiatan pemutaran masih dilakukan tetapi sesudahnya tidak boleh dilakukan lagi hingga telur menetas. Memasuki hari ke 18 sampai ke 21 telur mengalami masa kritis yang pada saat tersebut embrio mengalami perubahan yang sangat cepat untuk menjadi anak ayam. Beberapa organ tubuh mulai tumbuh sempurna sehingga cukup peka terhadap perubahan temperatur udara luar.
Hari ke19:
Sebagian telur mulai retak. Pada saat seperti ini ruangan mesin penetas membutuhkan kelembaban yang lebih tinggi daripada hari hari sebelumnya. Untuk menciptakan suasana tersebut kita dapat menambah volume air pada baki.
Hari ke20:
Seperti hari ke 18 dan 19 maka pada hari ke 20. Proses pecahnya kulit telur terjadi pada hari ke 20 dan ke 21. Anak ayam melalui paruhnya menekan ujung tumpul yakni rongga udara kemudian memperpanjang diri dan menggelembung. Akibatnya kulit telur menjadi sobek dan lama kelamaan akan pecah. Dengan kekuatan sedikit demi sedikit ujung tumpul tadi akan terangkat dan kepala anak ayam tersebut menyembul keluar
Hari ke21:
Seluruh kegiatan penetasan dianggap selesai karena semua telur sudah menetas. Bila ada yang belum menetas berarti embrio didalamnya telah mati dan tidak perlu ditunggu lagi. Kain yang ada dalam baki air dikeluarkan supaya udara dalam ruangan tersebut tidak lembab. Biarkan anak anak ayam yang baru menetas tetap berada didalam ruangan mesin penetas. Lubang ventilasi boleh dibuka seluruhnya agar anak ayam mendapatkan udara yang segar.
Hari ke22:
Anak anak ayam dapat dikeluarkan dari mesin tetas kemudian dimasukkan kekandang atau boks yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Proses pemindahan hendaknya dilakukan secara hati hati sebab kondisi tubuh anak ayam masih sangat lemah.
Program penetasan dapat dikatakan berhasil atau gagal setelah kita tahu berapa daya tetas yang didapatkan. Menghitung daya tetas bisa dilakukan dengan mudah seperti dijelaskan berikut ini:
Daya tetas= (Jumlah telur yang menetas/jumlah telur yang fertil (subur) x 100%
Daya tetas yang baik sedikitnya 75%. Apabila dibawah angka tersebut peternak perlu mencari penyebabnya. Kemungkinan yang terjadi antara lain induk betina kekurangan gizi, sehingga organ organ reproduksi kurang berhasil secara normal dan kualitas isi telur yang dihasilkan pun rendah. Disamping itu ada juga kemungkinan bahwa pejantan kurang sempurna ketika mengawini induk betina.


















Tidak ada komentar: